Partisipasi Politik Perempuan Menurun

Perempuan Pemilu BENGKULU, PB – Tingkat melek politik perempuan di Provinsi Bengkulu tergolong rendah, penyebabnya adalah sikap tidak percaya (skeptis) terhadap aktivitas yang berbau politik. Demikian disampaikan Koordinator Jaringan Peduli Perempuan Bengkulu, Wahyu Widya Astuti. “Lima tahun terakhir tren partisipasi politik perempuan di Bengkulu menurun, untuk angka pastinya saya lupa, tapi gambarannya dari 250 ribu perempuan hanya 16 ribu orang perempuan saja yang punya ketertarikan¬† pada politik,” katanya kepada Pedoman Bengkulu, Jumat (23/10/2015). Harapnya, kedepan semakin banyak perempuan yang terlibat dalam aktivitas politik, sebab menurutnya keterlibatan perempuan dalam politik akan banyak berpengaruh terhadap pemenuhan hak-hak kaum perempuan untuk ikut serta dalam menentukan kebijakan yang pro dengan kepentingan mereka. “Kalau partisipasi politik perempuan tinggi, khususnya di Bengkulu maka akan berimplikasi pada kebijakan yang pro dengan kepentingan kaum perempuan. Apalagi di Bengkulu ini masih banyak sekali persoalan perempuan yang belum terselesaikan, seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang tinggi, angka incest tertinggi di Indonesia, upah murah, dan kematian ibu hamil masih tergolong tinggi,” ujarnya. Hal ini juga dibenarkan oleh salah satu perwakilan organisasi perempuan Bengkulu. Aksi Perempuan Indonesia (API) Kartini, Valentina Edellweiz mengatakan bahwa partisipasi perempuan saat ini tidak akan banyak berubah dari tahun sebelumnya. “Dari 1.620 calon yang bertarung di Pilkada serentak 9 Desember nanti, jumlah perempuan hanya 122 orang (7,5 persen) se-Indonesia,” ungkapnya. Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa salah satu masalah yang melemahkan peran perempuan karena masih lekatnya budaya patriarki (bapak) yang menempatkan peran perempuan di rumah (domestik). “Ruang publik seperti ruang politik kadang masih dianggap belum layak bagi kaum perempuan,” katanya. Kecemasan yang sama juga disampaikan Wakil Ketua Institut of Social Justice (ISJ) Renda Putri menanggapi rendahnya partisipasi perempuan ditiap pemilu. Minimnya kandidat perempuan yang ikut di panggung politik juga menjadi faktor penentu. Dari delapan kabupten yang menyelenggarakan hanya ada tiga Calon Bupati (Cabup) keterwakilan kaum perempuan di Pilkada tahun ini, yaitu Yennita Fitriani Calon Bupati Kaur, Rosnaini Abidin dari Seluma, dan Leni Haryanti John Latief dari Lebong. “Sudah pasti itu berhubungan erat antara kehadiran calon perempuan dengan partisipasi kaum perempuan. Karena¬† kandidat perempuan untuk Calon Gubernur (Cagub) di Bengkulu tahun ini tidak ada maka partisipasinya bisa berkurang,” katanya. Terlebih, secara khusus kebanyakan kaum perempuan belum dapat mengenal dan melihat adanya sosok kandidat yang ideal bagi mereka. “Perempuan tidak termotivasi untuk memberi suara politiknya,” terang Renda dalam percakapan via telepon. Sejauh ini kaum perempuan menilai bahwa partisipasi politik mereka tidak menjamin kesejahteraan perempuan secara langsung. “Pemilu itu kan, belum dilihat dapat membawa perubahan kesejahteraan bagi nasib perempuan? Karena itu ini jadi tantangan bagi semua kandidat saat ini,” kata Renda sebelum menutup obrolan telponnya. (Muammarsyarief)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait