90 Tentara Jepang Terbunuh di Tabarenah

monumen tabarenaMengenang Pertempuran-Pertempuran Hebat di Bengkulu

Tidak semua kisah pejuang tanah air tercatat dalam sejarah. Hanya sekelumit yang bisa terungkap lewat saksi bisu peninggalan sejarah. Seperti kisah pejuang kemerdekaan di Desa Tabarenah. Seperti apa kisahnya.

MUHARISTA DELDA – CURUP

TAK banyak yang berubah. Tugu Pahlawan dan Monumen Pahlawan di Desa Tabarenah, Kecamatan Curup Utara, Rejang Lebong (RL), masih tetap berdiri kokoh. Namun agak berbeda dengan kondisi tugu, monumen yang berjarak sekitar 300 meter dari tugu mengarah ke Sungai Musi, kondisinya tampak kurang terawat.

Padahal tugu dan monumen itu merupakan tonggak sejarah perjuangan masyarakat Rejang Lebong, khususnya warga Dusun Tabarenahm(kini Desa Tabarenah, red) dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Sedangkan Taman Makam Pahlawan dan Jembatan Tabarenah, dua bukti sejarah selain Tugu dan Monumen Pahlawan di Desa Tabarenah kondisinya agak lebih terawat.

Desa yang identik dengan jembatan terpanjang di tanah Rejang itu, hingga kini masih menjadi saksi bisu perjuangan warga RL yang dipimpin oleh almarhum Mayor. Purn. Arifin Djamil dan Kapten. Berlian.

Meski saksi hidup pertempuran di Tabarenah sudah banyak tiada, namun kisahnya tetap bisa dikenang dari berbagai dokumen sejarah yang ada di RL. Termasuk dari kalangan Legiun Veteran. Dikisahkan seorang pejuang Tabarenah, Amirudin dalam dokumen yang tercatat di buku sejarah Perjuangan Tabarenah, perang di Tabarenah berlangsung hingga 5 hari 5 malam secara gerilya.

“Mungkin dalam mengenang sejarah Tabarenah, tidak sepenuhnya sesuai fakta. Namun setidaknya cerita yang berkembang saat ini mendekati dengan kejadian yang sebenarnya. Soalnya untuk tahu kejadian sebenarnya, sangat sulit. Saya rasa saat ini hampir semua pejuangnya sudah meninggal,” kata Ketua Legiun Veteran RL, Lettu. Purn H. A Taher.

Dari berbagai sumber diceritakan, Jembatan Tabarenah sempat dibom dinamit oleh pejuang. Tujuannya menghalau tentara Jepang agar tidak bisa masuk ke Tabarenah. Juga untuk menghalau Jepang masuk ke Lebong. Konon, saat jembatan hancur, ada beberapa mobil milik Jepang yang terbakar, jatuh ke Sungai Musi.

Bukti sejarahnya diabadikan lewat lagu berbahasa Rejang berjudul Jamben Tabarenah. Singkatnya, di setiap jengkal tanah Desa Tabarenah penuh dengan sejarah perjuangan. Tidak sedikit mengundang pecinta sejarah datang untuk meneliti.

Dari dokumen sejarah sesuai diceritakan Amirudin, komandan pertempuran dalam perang merebut kemerdekaan adalah Kapten Berlian. Namun, menurut catatan di Monumen Tabarenah, tongkat komando ada di tangan Staf Batalyon R. Iskandar Ismail dibantu Kepala Mobilisasi/Latihan Rakyat MZ Ranni, 30 Desember 1945. Karena kalah persenjataan, akhirnya Jepang dapat memasuki Tabarenah.

Setelah berhasil masuk serangan Jepang semakin membabi buta. Tak kurang 60 rumah warga dibakar. Hanya 6 rumah yang selamat dari api dan sebagian diantaranya masih berdiri hingga sekarang. Korban nyawa juga bergelimpangan. Baik dari masyarakat sipil, TKR maupun tentara Jepang.

Serangan Jepang dimulai 27 Desember, namun ada juga yang menyebut 30 Desember 1945 itu tak membuat ciut nyali pejuang. Bersama rakyat, TKR dengan modal keberanian mati-matian mempertahankan NKRI. Dalam pertempuran sengit itu, tercatat 90-an lebih tentara Jepang terbunuh dari total ratusan tentara yang rincinya belum terungkap pasti.

Karena banyak tentaranya yang tewas, Jepang akhirnya kembali ke markasnya di Dwitunggal Curup menggunakan 9 truk berisi mayak tentara Jepang. Sementara pejuang kita, tercatat 250 orang gugur dan luka-luka. Dikisahkan juga oleh Amirudin dalam sejumlah surat kabar, puncak kemarahan Jepang berawal saat kepala salah satu tentara Jepang dipenggal warga Desa Tabarenah bernama Jaiman. (Sumber; Rakyat Bengkulu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait